Periode 60an
Informasi keberadaan matulja di sekitar TB. Masigit Kareumbi dapat ditelusuri sejak keberadaan Bapak Ibrahim Adjie yang menjabat sebagai Panglima Kodam Siliwangi pada tahun 1960 sampai 1966. Sekitar tahun 65-66 beliau membangun gubuk di tengah hutan dan memelihara rusa sambar di lokasi yang sekarang menjadi basecamp Wanadri. Diceritakan pada saat itu bahwa ada seekor macan tutul yang masuk kedalam kandang rusa, menerkam beberapa rusa dan akhirnya ditangkap atau ditembak. Informasi dari beberapa sumber menyatakan bahwa peristiwa itu terjadi pada tahun 1967. Dapat dikatakan inilah konflik macan-rusa-manusia pertama yang pernah tercatat di TBMK. Ada saksi yang menyatakan pernah melihat offset (taksidermi) dari awetan satwa yang ditangkap tersebut dan dikonfirmasi bahwa benar satwa tersebut adalah macan tutul berbulu kuning dengan ukuran kira-kira sedikit lebih besar daripada anjing dewasa, anggota tubuhnya lengkap dengan taring buatan yang besar dan mata terbuat dari kelereng seperti lazimnya seni awetan pada jaman itu.
Periode akhir 90an
Pada sekitar tahun 1997 ketika sebagian area TBMK dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat 2 (BKSDA Jabar 2) dibawah Direktorat Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kementerian Kehutanan, melalui sebuah proyek bidang kehutanan dilakukan introduksi kembali rusa jawa. Pada saat itu 3 ekor rusa diterkam oleh 2 ekor macan yang masuk kedalam kandang. Kedua macan yang malang itu kembali bernasib buruk ditangan para warga.
2016: Tahun Matulja
Keberadaan matulja pertama di sekitar basecamp Wanadri mulai terditeksi secara nyata pada tahun 2016. Setelah kemarau panjang yang dibarengi fenomena el-nino pada tahun 2015 dan kebakaran besar pada akhir tahun. Di periode akhir musim hujan 2016, dua ekor rusa di dalam area pemeliharaan 8 hektar menjadi mangsa. Pada kesempatan ini tim akhirnya mendapatkan bukti ilmiah melalui foto dan video yang dihasilkan dengan teknologi kamera jebak (camera trap). Pada saat itulah dimulai babak baru pengalaman interaksi dengan matulja di TBMK yang lebih intim.
Sejak saat itu dimulailah alokasi perhatian dari manajemen untuk matulja sebagai salah satu komponen ekosistem yang sangat penting bagi keberlangsungan dan keterkelolaan kawasan.
Pemasangan kamera jebak mulai diintensifkan sampai diperoleh berbagai bukti foto kemunculan, jejak, korban mangsa dari rusa jawa termasuk laporan warga dan tim yang memergoki satwa ini secara langsung. Berbagai kasus ini kami kategorikan sebagai konflik.
2019: Eskalasi Pertemuan
Laporan perkembangan lapangan yang dikirimkan oleh Tim Wanadri kepada BBKSDA Jabar menyampaikan bahwa telah terjadi eskalasi pergerakan macan tutul di sekitar basecamp dan area pemeliharaan rusa.
Eskalasi tersebut berupa adanya perjumpaan langsung dari salah satu staf manajemen pada bulan Juni 2019, bekas jejak-jejak di berbagai lokasi dan foto pada kamera jebak yang terdapat di dalam area pemeliharaan rusa.
2021: Pertemuan Pemburu dengan Matulja
Sekitar bulan November tahun 2021 beredar video mengenai macan tutul yang berada di atas pohon dan dalam video terdengar suara orang (yang diperkirakan pemburu) dan suara gonggongan anjing. Menurut berita yang beredar, video ini diambil di sekitar wilayah Sumedang yang masih berada dalam satu lansekap dengan TBMK. Namun tim belum mendapat informasi yang lebih mendalam terkait video ini selain informasi bahwa macan berhasil diusir dan tidak terjadi konflik.
2022: Tahun Konflik
Menurut Soerjono Soekanto, konflik merupakan proses sosial dimana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya yang disertai ancaman hingga kekerasan. Pada kasus di TBMK, konflik telah terjadi sejak lama antara macan tutul dengan rusa yang dikembangkan menjadi satwa buru.Tentu saja konflik yang terjadi sebetulnya lebih antara macan tutul sebagai penghuni asli hutan TBMK dengan manusia yang mengintroduksi rusa untuk kepentingannya.
Walaupun demikian, introduksi ini dilakukan dalam kerangka dan niatan untuk mengembangkan satwa populasi rusa dan merupakan konsekuensi dari fungsi kawasan sebagai Taman Buru.
Pada satu sisi, macan tutul secara alami juga memenuhi kebutuhannya dan hal ini merupakan proses yang sangat alamiah. Sampai saat ini data tim Wanadri mencatat 5 ekor rusa jawa yang secara nyata telah dimangsa oleh matulja, diluar kematian rusa lain yang belum dapat dipastikan benar penyebabnya.
Pada tahun 2022 terjadi kasus di TBMK yang sangat menarik perhatian, bahkan dalam lingkup nasional yaitu konflik antara matulja dengan manusia.
Konflik ini diawali dengan eskalasi peningkatan laporan temuan matulja di desa sekitar kawasan. Penjaga sebuah peternakan ayam berskala besar mengunggah sebuah video penampakan matulja yang mondar mandir di dalam kandang dan memangsa beberapa ekor ayam. Video yang lantas menjadi viral ini menjadi perhatian banyak pihak. Situasi ini terjadi pada sekitar bulan Juni 2022. Tidak berselang berapa lama pada Agustus 2022 masuk laporan dari warga yang tinggal tidak jauh dari peternakan ayam tersebut dan kebetulan memiliki beberapa ayam yang dilepas. Warga melaporkan bahwa ada kehilangan ayam yang diduga karena hewan liar. Tim Wanadri melakukan mediasi konflik dan memasang kamera jebak disitu. Hasil kamera jebak memang mengindikasikan matulja yang sama dengan konflik pada bulan sebelumnya. Tim kemudian memberikan pendampingan dan bersama warga berupaya mengendalikan konflik.
Konflik macan – manusia terjadi pada awal September 2022. Lokasinya di belakang kebun warga, yang terletak di tepi hutan TBMK. Tepatnya di tepi Sungai Cihanjawar yang terletak di Dusun Tegalsaeutik RT 02 RW 10, Desa Tegalmanggung, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang. Kasus ini tercatat sebagai kasus pertama di Indonesia dimana macan menyerang manusia di alam terbuka. Umumnya perilaku satwa liar cenderung menghindar saat berjumpa manusia dan hanya menyerang ketika dalam posisi terdesak, misalnya ketika akan ditangkap atau macan masuk kedalam rumah warga.
Korban dari kasus ini adalah 3 orang luka-luka dan 1 ekor macan kumbang mati. Berdasarkan pengakuan dan rilis resmi, warga terpaksa membunuh matulja karena merasa diserang saat sedang berada di kebunnya.
2023: Rencana Aksi
Tahun 2023 dibuka dengan laporan adanya ternak bebek di lokasi konflik terakhir di Cihanjawar yang kembali dimangsa oleh satwa liar yang belum diketahui jenisnya. Dari beberapa jejak didapati kecurigaan adanya kucing liar. Untuk itu tim kembali memasang kamera jebak dan akhirnya mendapatkan bukti adanya kucing kuwuk atau sering disebut meong congkok (Prionailurus bengalensis) yang memangsa hewan tersebut.
Dari sekian runutan konflik dan berbagai penemuan diatas, tim memutuskan pada tahun 2023 ini harus ada kegiatan yang dilaksanakan secara lebih terstruktur. Melalui beberapa diskusi dan pertemuan dengan beberapa pihak, akhirnya melahirkan sebuah kegiatan yang diberi nama Inventarisasi Macan Tutul Jawa TBMK 2023.
Penutup
Tim sangat berharap bisa mendapatkan pengetahuan yang lebih mendalam tentang perilaku dan habitat matulja terutama di TBMK, karena sangat terkait dengan upaya pemulihan populasi rusa jawa dan ekosistem rantai makanan di TBMK agar mendapatkan arah pengelolaan kawasan yang lebih baik.
Data dasar seperti sebaran populasi menjadi kebutuhan utama untuk menentukan strategi mitigasi konflik di masa yang akan datang sekaligus meningkatkan kepedulian dari publik terhadap satwa langka yang sampai saat ini masih seringkali dianggap sebagai hama penganggu oleh masyarakat sekitar hutan.
Pertanyaan yang mendasar adalah: bagaimana kita dapat terus hidup berdampingan dengan macan tutul jawa?
Referensi
- Laporan Wanadri: Peta Sebaran Laporan Titik Pertemuan Macan Tutul di Sekitar Basecamp Wanadri 2022
- TRIBUNNEWS: Penampakan Macan Kumbang di Peternakan Ayam Daerah Bandung, Kerap Memangsa Hewan Ternak
https://www.youtube.com/watch?v=HeQT1uiEARM - TRIBUNNEWS: Seekor Macan Kumbang Menyerang 3 Petani di Sumedang saat Tengah Merawat Tanaman, Korban Alami Luka
https://www.youtube.com/watch?v=uRO0cLVzC-w
