





Setidaknya 7 (tujuh) ribu tahun silam, Orangutan pernah hidup di Pulau Jawa. Satwa bermarga Pongo ini diperkirakan turut bermigrasi ke Paparan Sunda bersama fauna purba lainnya pada kisaran Kala Pleistosen Akhir, masa di mana gelombang penjelajahan Homo sapiens mulai mencapai Nusantara.
.
Jejak Orangutan di Jawa lebih banyak ditemui dalam bentuk fosil. Entah lantaran belum sempat bertemu dengan manusia modern yang sudah kenal kebiasaan mencatat dalam berbagai media, entah apakah manusia saat itu punya cara pandang, penerimaan, serta perlakuan yang unik/khusus terhadap mamalia arboreal tsb, sosok Pongo yang hidup di Jawa tidak tampak muncul pada peninggalan-peninggalan tua seperti candi, prasasti, atau manuskrip.
Hilangnya Orangutan dari Jawa mungkin ada kaitan dengan kekeringan parah semasa glasiasi Pleistosen yang mengakibatkan mereka terpaksa bergerak mencari tempat berlindung ke Sumatra dan Kalimantan; boleh jadi disebabkan persaingan dengan primata lain, diburu oleh manusia, juga ketidakmampuan mereka menyelamatkan diri dari Macan Tutul sebagai pemangsa. (Phillipps & Phillipps, 2016)
Bila timbul pertanyaan “Apakah Orangutan dapat bertahan hidup seandainya kini masih ada di Jawa?”, maka jawabannya adalah “Kemungkinan besar: bisa” mengingat kemampuan beradaptasinya yang tinggi bahkan terhadap kondisi terkini hutan-hutan di Pulau Jawa — dengan catatan: terlindungi dari pemburu dan pemangsa.
.
Akan tetapi, hal tsb tidak lantas dapat jadi pembenaran untuk membawa salah satu dari 3 (tiga) sub-spesies Orangutan Kalimantan atau salah satu dari 2 (dua) spesies Orangutan Sumatra ke Jawa lalu dilepasliarkan. Selain alasan “Jawa bukanlah rumah, habitat asli mereka”, bukankah tidak sedikit spesies lain tengah terancam punah di pulau ini dan akan jauh lebih bijak jika kita fokus menanganinya?
.
.
#WJCTF
#dulupernahada
@yayasan.wanadri
