Pendataan Wali Hutan pada akhirnya mendapatkan data jumlah oksigen yang dihasilkan pada total area 4 hektare yang telah diadopsi oleh PT Bio Farma (Persero). Area tersebut dibagi ke dalam empat plot (A, B, C, dan D) yang masing-masing berluas satu hektare. Di area petak hutan tersebut telah terdata komunitas pohon sebagai berikut:
Jumlah tegakan Plot-A sebanyak 733 pohon, Plot-B 799 pohon, Plot-C 1.115 pohon, dan Plot-D 517 pohon. Selanjutnya tim menghitung dan mengeluarkan pendugaan jasa lingkungan yang dihasilkan. Penghitungan dilakukan dengan cara mencari berat jenis setiap pohon untuk mengetahui biomassa permukaan, biomassa bawah serta jumlah karbon dalam biomassa. Berdasarkan penghitungan tersebut, selanjutnya akan diketahui total karbon, serapan karbon dioksia (CO2), dan produksi oksigen (O2).
Diduga, dari penghitungan itu, Plot-A dengan 733 pohon dapat menghasilkan oksigen 358,03 ton/hektare/tahun, Plot-B 799 pohon menghasilkan 462,38 ton/hektare/tahun, Plot-C dengan 1.115 pohon menghasilkan 1162,14 ton/hektare/tahun, dan Plot-D dengan 517 pohon menghasilkan 639,59 ton/hektare/tahun. Secara keseluruhan dari keempat petak hutan yang diadopsi oleh BUMN holding farmasi ini, dapat diketahui total produksi adalah sebanyak 2.622,142 ton/hektare/tahun.
Selain menghasilkan oksigen, hutan pun dapat menyerap karbon. Berapa banyak karbon yang diserap dari empat hektare lahan hutan yang diadopsi? Berikut adalah dugaan serapan berdasarkan perhitungan tim Wali Hutan dengan rumus yang sudah di adaptasi dari standar SNI 7724-2019:
Plot-A dengan luas 1 hektare diuga dapat menyerap karbon sebanyak 418,46 ton/hektare/tahun, Plot-B menyerap karbon sebanyak 574,02 ton/hektare/tahun, Plot-C menyerap karbon sebanyak 540.41 ton/hektare/tahun, dan Plot-D menyerap karbon sebanyak 525,88 ton/hektare/tahun. Secara keseluruhan, karbon yang dapat diserap di seluruh area tersebut adalah 2.058,77 ton/hektare/tahun.
Apabila dimasukkan ke dalam perhitungan nilai jasa lingkungan,
penyerapan CO2 di Plot-A setara dengan Rp 29.383.140, Plot-B setara Rp 40.306.027, Plot-C setara Rp 37.946.495, dan Plot-D setara Rp 36.925.816.
Nilai tersebut didapatkan dari jumlah serapan CO2 dikalikan dengan harga
karbon yang sudah ditetapkan. Secara keseluruhan, dalam setahun nilai jasa lingkungan pada penyerapan karbon untuk empat hektare hutan saja ternyata mencapai lebih dari Rp 130 juta. Jumlah itu akan berlipat ganda apabila ditambah dengan nilai produksi oksigen, dan nilai-nilai jasa lingkungan lain yang dikonversikan ke dalam nilai mata uang rupiah.
Setelah mengetahui jumlah nilai rupiah yang fantastis itu, makin terasa pentingnya keberadaan hutan bagi manusia. Hutan yang menjadi rumah dari banyak pohon tentu memberikan manfaat sangat besar untuk kehidupan manusia dan keseimbangan alam, kini dan nanti. Oleh karena itu, melalui Program Wali Hutan, WJCTF terus-menerus mengajak berbagai pihak untuk peduli hutan dan berpartisipasi dalam program. Sebagai salah satu bentuk perwujudan program, Tim WJCTF melakukan patroli tiga kali dalam seminggu di area adopsi Wali Hutan serta melakukan patroli atau pemeriksaan area Wali Pohon.
Tim Wali Hutan : Nida
