WDPA ID: 1905
PROFIL KLHK: BBKSDA JABAR
Secara administrasif pemerintahan kawasan ini termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Sagalaherang Kabupaten Subang dan Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Sedangkan secara geografis terletak antara 6°44’’ Lintang Selatan dan 107°37’ Bujur Timur. Secara umum topografi kawasan ini bergelombang dengan lereng yang terjal 30% – 50%. Ketinggian tempat mencapai 1.150 – 2.684 m dpl.
Topografi kawasan umumnya Titik tertinggi berada pada Ketinggian 2.084 m (6.837 kaki) dan Koordinat 6.77°S 107.60°E. Suhu rata-rata hariannya adalah 17oC pada siang hari dan 2 °C pada malam hari.
Flora : Puspa (Schima wallichii), Pasang (Quercus sp.), Ki hiur (Castanopsis javanica), Saninten (C. argentea), Jamuju (Podocarpus imbricatus), Rengas (Gluta renghas), Mara (Macaranga tanarius), dan Ki Lemo (Litsea cubeba). Juga ditemui jenis-jenis Harendong (Melastoma polyanthum), Ki panggang (Schefflera grandiflora), Walan (Ficus deltoidea), Pandan hutan (Pandanus sp.) dan Rotan Bubuay (Daemonorops melanochaetes)
Fauna : Lutung (Presbytis cristata), Surili (Presbytis aygula), Owa jawa (Hylobates moloch), Jalarang (Ratufa bicolor), Macan Tutul (Panthera pardus), Trenggiling (Maniis javanica), Babi Hutan (Sus vitatus), Tupai, (Sciurus sp), Jenis Burung al. Titiran (Geopelia striata), Tekukur (Streptopalta chinensis), Kadanca (Ducula afnea), Alap-alap (Falcon mollocensis), Sesap Madu (Antruptus surgulensis), Elang Hitam (Ictinaetus malayensis), Elang Jawa (Spizateus bartelsi), Kipasan Ekor merah (Riphidura Phoenicura), Puyuh Gonggong (Arborophila javanica), Munguk Loreng (Sitta azuera), Kacamata Biasa (Zosterops palpebrosus), dan Cucak Gunung (Picnonotus bimaculatus).
Hidrologi : CA dan TWA Gunung Tangkuban Perahu menghasilkan debit air 2,4 m3/detik atau 207.360 m3/hari, dengan kualitas air yang sangat baik yakni jernih, tidak berbau dan dengan rasa netral. Air pegunungan ini mengalir melalui sungai-sungai Cipanguseupan, Cihaseum, Cikoneng, Cimuja, Ciasem, Cihaji, Cijengkol dan Cijalu. Gunung Tangkuban Perahu merupakan hulu bagi daerah-daerah aliran sungai (DAS) Citarum, Cilamaya, Ciasem dan Cipunagara.
Wisata :
- Nilai Estetika, berupa landskep hutan pegunungan yang rimbun akan tumbuhan dan pepohonan yang menimbulkan iklim mikro serta gunung yang sering nampak berkabut serta kaldera kawah Gunung Tangkuban Perahu, Perkebunan, panorama pegunungan dan hutan.
- Nilai Biologis dan pengetahuan, berupa keanekaragaman flora dan fauna dan keadaan kawasan yang digunakan untuk kegiatan penelitian serta adanya stasiun pengamatan aktivitas gunung berapi milik Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana dan Geologi.
- Nilai Historis, berupa sejarah geologi gunung purba, yaitu Gunung Sunda purba yang setelah meletus sisanya menjadi 3 buah gunung, yaitu Gunung Burangrang, Gunung Tangkuban Perahu dan Bukit Tunggul, serta legenda masyarakat mengenai asal usul Gunung Tangkuban Perahu.
- Potensi yang sudah dijadikan objek daya tarik wisata alam (ODTWA) adalah Kaldera Kawah Gunung Tangkuban Perahu. Kawah-kawah yang dikembangkan menjadi ODTWA yaitu, Kawah Ratu, Kawah Upas dan Kawah Domas.
Aksesibilitas :
Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Perahu dapat dicapai dengan mudah dari 3 jalur,yakni :
- Dari arah selatan (Kota Bandung) dapat ditempuh dengan jarak 29 km dengan kondisi jalan baik.
- Dari arah Barat Daya (Kota Cimahi) jarak yang harus dilalui adah 39 km, dengan kondisi jalan baik,
- Dari arah Utara (Kota Subang) berjarak 25 km dengan kondisi jalan yang baik.
- Dari arah Barat daya (Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat), melalui Jl. Kolonel Masturi dan masuk ke jalan perkebunan Sukawana dengan kondisi jalan buruk
- Dari Arah Timur melalui Jalan Raya Bandung – Subang, melalui jalur jalan Perkebunan PTPN VIII Ciater.
Sarana dan Prasarana : Pos Jaga (Pondok Kerja) yang berada di Blok Jayagiri, Jalan akses masuk ke TWA sepanjang 5 km, Pos Tiketing, Masjid, Fasilitas out bound di Jayagiri, Shelter, Toilet, Pusat Informasi dan Pos Keamanan.
Kemitraan : –
Pengusahaan Pariwisata : PT. Graha Rani Putra Persada sebagai pemegang Ijin Pengusahaan Pariwisata Alam seluas 171,40 Ha, sesuai dengan Keputusan Menteri Kehutanan No. SK.306/Menhut-II/2009 tanggal 29 Mei 2009 (Periode 2009 – 2039)
——-
(Diadaptasi: Profil BBKSDA Jabar)
Pada awalnya, komplek hutan Gunung Tangkuban Perahu seluas 1.660 hektar telah ditetapkan sebagai hutan tutupan, melalui Besluit Direktur Van Landbouw, Nijverheid en Handel tanggal 13-2-1929 No. 1377/B Sub E bi.
Selanjutnya oleh surat keputusan Menteri Pertanian No. 528/Kpts/Um/9/1974 tanggal 3 September 1974 tentang Penunjukan Hutan Tutupan Gunung Tangkuban Perahu yang terletak di Propinsi Jawa Barat sebagai Taman Wisata seluas 370 Ha dan sebagai Cagar Alam seluas 1.290 ha.
Kawasan hutan ini kemudian ditetapkan dan dikukuhkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. SK.1855/Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 25 Maret 2014, dengan total luas 1.548,79 Ha (CA = 1.204,40 Ha dan TWA = 344,39 Ha).
Gunung Tangkuban Perahu terbentuk sekitar 90.000 tahun lalu di Kaldera Sunda. Sepanjang sejarahnya, aktivitas yang terjadi di gunung Tangkuban Parahu telah membentuk 13 kawah. Tiga kawah diantaranya populer dijadikan destinasi wisata, yakni Kawah Ratu, Kawah Upas, dan Kawah Domas. Sementara perincian 13 kawah lengkapnya sebagai berikut: Kawah Upas terdiri dari Kawah Upas (termuda), Kawah Upas (muda), dan Kawah Upas (tua). Kawah Ratu juga terdiri dari Kawah Ratu (1920), Kawah Ratu (muda), dan Kawah Ratu (tua). Kemudian ada Kawah Baru, Kawah Pangguyanganbadak, Kawah Badak, Kawah Ecoma, Kawah Jurig, Kawah Siluman, dan Kawah Domas. Gunung Tangkuban Perahu sempat meletus beberapa kali. Orang yang sempat mencatat letusan pertamanya adalah botanis sekaligus geologis bernama Franz Wilhelm Junghuhn. Berdasarkan catatan yang dibuat Junghuhn tahun 1853, catatan pertama tentang letusan Gunung Tangkuban Perahu adalah tahun 1829.
Daftar Letusan dan Erupsi Gunung Tangkuban Perahu
- 1829: Erupsi abu dan batu dari Kawah Ratu dan Domas
- 1846: Terjadi erupsi dan peningkatan kegiatan
- 1896: Terbentuk fumarol baru di sebelah utara Kawah Badak
- 1900: Erupsi uap dari Kawah Ratu
- 1910: Kolom asap membubung setinggi 2 km di atas dinding kawah, erupsi berasal dari Kawah Ratu
1926: Erupsi freatik di Kawah Ratu membentuk lubang ecoma - 1935: Lapangan fumarol baru disebut Badak terjadi, 150 m ke arah selatan barat daya dari Kawah Ratu Gunung Tangkuban Perahu
- 1952: erupsi abu didahului oleh erupsi hidrothermal (freatik)
- 1957: erupsi freatik di Kawah Ratu, terbentuk lubang kawah baru
- 1961, 1965, 1967: erupsi freatik
- 1969, 1971: erupsi freatik didahului oleh erupsi lemah menghasilkan abu
- 1983: erupsi freatik
- 1992: awan abu membubung setinggi 159 m di atas Kawah Ratu
- 1994: peningkatan kegiatan kuat dengan gempa seismik dangkal dengan erupsi freatik kecil
- 2004: peningkatan kegempaan
- 2005: peningkatan aktivitas kegempaan
- 2006: peningkatan aktivitas kegempaan
- 2013: beberapa kali terjadi peningkatan aktivitas pada Februari, Maret, dan Oktober. Terjadi 11 kali letusan freatik selama 4 hari (5-10 Oktober)
- 2019: erupsi dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 200 meter di atas puncak. (Wikipedia.com)
(Sumber: Perpustakaan KLHK, Profil BBKSDA Jabar, PVMBG, CNN Indonesia, Tirto dan berbagai sumber lain. UPDATE 20210928 21:25)
Sekitar Kawasan
- Hutan Lindung blok Gunung Wayang-Sunda (Perhutani)
- Perkebunan Sukawana (PTPN VIII)
- Perkebunan Ciater (PTPN VIII)
Pemerintahan daerah
Kabupaten Bandung Barat
- Kecamatan Lembang
- Kecamatan Parongpong
Kabupaten Subang
- Kecamatan Sagalaherang
- Kecamatan Ciater
Potensi
- Pemandangan alam
- Jalur Pendakian
- Sumber air bersih
- Belerang
- Konservasi flora-fauna asli
- Pengembangan tanaman hias dari flora asli
- Wisata Pendidikan
Tekanan
- Erupsi gunung berapi
- Perburuan tumbuhan asli (pakis, anggrek, dll)
- Perburuan burung dan satwa liar
- Pengunduhan kayu bakar
- Pengambilan rumput untuk ternak
- Akses tidak terkendali (offroad roda dua dan roda empat)
- Akses wisata tidak terkendali dan overtourism
- Kebakaran hutan dan lahan
Pemangkuan
BBKSDA Jabar Bidang 2, Seksi Konservasi Wilayah III Soreang
Jl. Soreang – Cipatik, Parungserab, Kec. Soreang, Bandung, Jawa Barat 40921
Taman Wisata Alam Tangkuban Perahu
Jl. Tangkuban Perahu No. 282, Cikole Lembang, Kab. Bandung Barat 40391, Indonesia
Website: http://twatangkubanparahu.com








