Pada 5 Oktober, Rumah Edukasi Mangrove (REM) di Desa Mayangan kedatangan tamu istimewa. Kelompok Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) Karawang, yang berasal dari Desa Muara Kecamatan Cilamaya Wetan, berkunjung dalam rangka berbagi pengalaman sekaligus belajar mengenai pengelolaan air bersih dan sanitasi.
Rombongan KPPI ini datang mewakili masyarakat pesisir Cilamaya untuk menyuarakan berbagai kendala yang mereka hadapi terkait isu WASH (Water, Sanitation, and Hygiene), khususnya dalam hal ketersediaan air bersih, sanitasi, dan pengelolaan sampah.
Desa Muara sendiri berada di dataran rendah yang kerap menghadapi dua kondisi ekstrem: banjir dan kekeringan. Sungai Cilamaya yang membentang menjadi batas alami dengan Kabupaten Subang, turut memengaruhi dinamika air di wilayah tersebut. “Permasalahan masyarakat di Desa Muara adalah kesulitan air bersih, padahal kebutuhan ini sangat mendasar. Ada yang sudah menggunakan jalur PDAM, tapi airnya hanya keluar sedikit dan sering kali baru mengalir pada malam hari,” ujar Ibu Runi, pendamping KPPI.
Ia menambahkan, “Karena air di sana masih payau, baik di sumur maupun di sungai, kami berdiskusi dan mencari informasi tentang cara mengatasinya. Kebetulan, beberapa teman dari inisiatif lokal memberi tahu tentang Rumah Edukasi Mangrove di Desa Mayangan yang dikelola oleh Wanadri.”
Dalam kunjungan tersebut, para peserta KPPI melihat langsung bagaimana air payau diolah menjadi air siap minum menggunakan sistem sederhana yang ramah lingkungan. Mereka juga berkesempatan untuk mencoba hasil olahan tersebut secara langsung merasakan segarnya air minum hasil inovasi pengelolaan dari Wanadri.
Kunjungan ini menjadi awal yang baik untuk menjalin kolaborasi antarkomunitas pesisir, berbagi praktik baik, dan memperkuat kesadaran bahwa menjaga lingkungan juga berarti menjaga akses terhadap kehidupan yang lebih sehat dan berkelanjutan.