Sebagai bagian dari pemenuhan Rencana Kerja Tahunan (RKT) 2025, tim TBMK melaksanakan patroli jalur kerjasama periode 2021–2025. Kegiatan ini dilakukan pada 9–10 Agustus 2025 dengan menyusuri batas kawasan sepanjang 9,8 km, mulai dari Pasir Rancadadap hingga Cigumentong. Patroli kali ini diikuti oleh delapan personel yang terdiri dari gabungan tim TBMK dan relawan. Sebagian anggota turun langsung ke lapangan, sementara sebagian lain bertugas menjaga komunikasi di Saung Edukasi.
Patroli tidak hanya menelusuri jalur batas kawasan (Conservation Border Trail), tetapi juga mencakup kegiatan lain yang telah direncanakan dalam RKT. Di antaranya adalah patroli rutin untuk inventarisasi tekanan, monitoring rawa, inventarisasi sumber air, flora, serta fauna.
Salah satu temuan penting dari kegiatan ini adalah keberadaan delapan titik mata air, termasuk dua mata air temporer. Menariknya, dua sumber air baru (mata air 7 dan 8) belum tercatat dalam peta resmi (Peta Cicalengka Baginda). Tim juga melakukan pengukuran kualitas air melalui pengecekan TDS (Total Dissolved Solid), dengan hasil berkisar antara 8–21 ppm, menunjukkan kondisi air yang relatif baik.
Namun, patroli juga menemukan sejumlah tekanan terhadap kawasan. Aktivitas pengunduhan hasil hutan bukan kayu (HHBK) cukup marak, terutama berupa sadapan getah pinus dan pengambilan bambu. Tercatat ada 17 titik sadapan getah pinus dan 7 titik pengunduhan bambu. Bahkan, tim sempat mendengar suara penyadapan yang segera terhenti ketika didekati. Sisa-sisa penebangan dan pengambilan bambu juga masih terlihat jelas.
Selain itu, ditemukan pula beberapa catatan lain, seperti bibit bambu hitam yang tersisa hanya beberapa batang, keberadaan pohon saninten, jejak babi hutan, gigitan satwa pada tanaman Dayang, serta pembukaan jalur motor dengan lebar sekitar 1,5 meter yang diduga digunakan untuk mobilisasi hasil pengunduhan HHBK. Temuan lain berupa tempat pemasangan jaring untuk perburuan burung, serta empat pohon yang ditebang, yakni satu pohon huru (keliling 60 cm), dua pohon cangcaratan (keliling 45 cm dan 37 cm), serta satu pohon afrika (keliling 50 cm).
Patroli jalur kerjasama ini menegaskan pentingnya pengawasan rutin dan kolaborasi bersama relawan. Selain memastikan batas kawasan tetap terjaga, kegiatan ini juga membantu mengidentifikasi potensi, tekanan, sekaligus langkah yang perlu diambil untuk menjaga kelestarian hutan. Dengan data dan temuan yang lebih jelas, diharapkan pengelolaan kawasan dapat berjalan lebih baik, serta memberikan manfaat ekologis maupun sosial bagi masyarakat sekitar.
