Kondisi pasang surut air laut harus menjadi bahan pertimbangan saat melakukan penanaman mangrove dalam buis beton. Hal itu menjadi salah satu catatan penting saat Tim Lapangan Mayangan melakukan penanaman bibit di area petak 2 hektare pada Selasa, 28 Juli 2026.
Kegiatan penanaman dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari persiapan buis beton, pemindahan material menuju lokasi, hingga pengisian substrat dan penanaman bibit. Kegiatan dimulai pada pagi hari dengan pengecatan buis beton dan pemotongan bambu. Setelah itu, buis beton dipindahkan ke atas tongkang untuk dibawa menuju area petak 2 hektare. Proses pemindahan menuju lokasi dilakukan dengan menyesuaikan kondisi pasang surut.
Setelah menunggu hingga kondisi air memungkinkan, tongkang kemudian digeser menuju area petak 2 hektare. Buis beton selanjutnya diturunkan dan ditempatkan di lokasi yang telah ditentukan. Kegiatan dilanjutkan dengan pengisian substrat dan penanaman bibit ke dalam buis beton. Seluruh rangkaian kegiatan kemudian diselesaikan dengan pengembalian tim ke basecamp.
Sepanjang pelaksanaan kegiatan, tim juga melakukan evaluasi proses pemindahan material dan kondisi sarana yang digunakan. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah waktu pemindahan buis beton dan pergeseran tongkang yang perlu menyesuaikan kondisi pasang surut. Untuk kegiatan berikutnya, pemindahan buis beton ke tongkang serta pergeseran dan penurunan tongkang di area 2 hektare sebaiknya memang dilakukan pada sore atau malam hari agar lebih sesuai dengan kondisi air.
Dari sisi konstruksi, buis beton juga masih memerlukan tambahan pancang agar saling mengikat dan memperkuat posisi antarbuis beton. Sementara itu, kondisi rakit dengan bambu yang sudah cukup rapuh membuat kapasitas pengangkutan menjadi terbatas. Dalam kegiatan kali ini, rakit hanya mampu membawa sekitar 20 buis beton, sehingga tim perlu kembali mengambil sisa buis beton.
Evaluasi tersebut menjadi bagian penting dalam setiap kegiatan lapangan. Catatan-catatan yang dibuat dapat menjadi data empirik. Selain memastikan pekerjaan dapat berjalan, pengalaman di lapangan juga menjadi bahan perbaikan untuk pelaksanaan kegiatan berikutnya agar proses pemindahan, penempatan, hingga penanaman bibit dapat dilakukan dengan lebih efektif dan aman.
