HomeBlogUncategorizedSimulasi Perburuan Berbasis Konservasi (PBK) di TB. Masigit Kareumbi

Simulasi Perburuan Berbasis Konservasi (PBK) di TB. Masigit Kareumbi

Setelah sebelumnya dilaksanakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD)/brainstorming Simulasi  Perburuan Berbasis Konservasi (PBK) pada 13 Mei 2026 di BBKSDA Jawa Barat, rangkaian kegiatan PBK kembali berlanjut melalui kegiatan Simulasi PBK yang dilaksanakan pada 21 Mei 2026 di kawasan Taman Buru Masigit Kareumbi (TBMK). Artikel kegiatan Brainstorming dapat dibaca di FGD Simulasi PBK.

Kegiatan simulasi berlangsung mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB dan diikuti oleh 47 peserta dari berbagai organisasi dan instansi, di antaranya WANADRI, BBKSDA, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat, Yonif 330, PERBAKIN, serta perwakilan akademisi dari ITB dan UNPAD.

Simulasi ini menjadi salah satu langkah awal dalam memperkenalkan konsep Perburuan Berbasis Konservasi di Indonesia. Dalam kegiatan tersebut peserta mendapatkan pemaparan mulai dari latar belakang kegiatan, konsep dasar PBK, sejarah pengelolaan Taman Buru Masigit Kareumbi, hingga tahapan-tahapan yang perlu dilalui dalam mekanisme perburuan berbasis konservasi.

Pada simulasi ini diperkenalkan delapan tahapan utama dalam PBK, yaitu proses lelang, reservasi, hunting gate, information center, benchrest/zero, club house, hunting cluster, hingga hunting checkpoint. Seluruh tahapan disimulasikan sebagai gambaran bagaimana kegiatan perburuan dapat dilakukan secara terukur, terkontrol, dan tetap mengedepankan prinsip konservasi serta keselamatan.

Diskusi yang berlangsung selama kegiatan juga membahas berbagai aspek penting, mulai dari penentuan satwa buru berdasarkan kondisi populasi dan dampaknya terhadap kawasan, pembagian musim berburu, hingga pentingnya regulasi dan pengawasan apabila terdapat satwa dilindungi di dalam area buru. Selain itu, muncul pula usulan agar simulasi berikutnya dapat melibatkan lebih banyak unsur masyarakat, termasuk pemburu lokal dan masyarakat sekitar kawasan.

Kegiatan ini juga menegaskan bahwa pengelolaan taman buru tidak hanya berkaitan dengan aktivitas berburu semata, namun juga menyangkut aspek etika, regulasi, edukasi, transparansi, dan pengelolaan kawasan secara berkelanjutan. Para peserta menilai bahwa kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bersama untuk memahami bagaimana konsep taman buru dapat dikelola secara bertanggung jawab tanpa mengesampingkan nilai-nilai konservasi.

Meski masih terdapat beberapa evaluasi, seperti perlunya pengkajian lanjutan, penyempurnaan materi, serta penguatan regulasi dan keterlibatan berbagai pihak, kegiatan ini dinilai menjadi langkah awal yang penting dalam membuka ruang diskusi mengenai pengelolaan taman buru di Indonesia.

Melalui rangkaian kegiatan FGD, simulasi, hingga evaluasi yang akan dilaksanakan selanjutnya, diharapkan konsep Perburuan Berbasis Konservasi dapat terus dikaji secara terbuka, bertahap, dan melibatkan berbagai pihak sebagai bagian dari upaya pengelolaan kawasan konservasi yang lebih baik di masa mendatang.

This is a staging environment