HomeBlogKolaborasiKonservasiMayanganWartaBelajar Mangrove Lewat Cerita, Origami dan Penanda Ruang

Belajar Mangrove Lewat Cerita, Origami dan Penanda Ruang

Pengalaman Berkarya di Desa Mayangan

Oleh Uzda Nabila Shabiriani (dosen DKV, Universitas Bina Nusantara, Bandung).

Pada 26–30 Januari 2026, tim hibah PKM melaksanakan rangkaian kegiatan edukasi di Desa Mayangan dengan fokus utama di SD Sakti Mulya. Kegiatan dirancang sebagai upaya pengenalan ekosistem mangrove kepada siswa sekolah dasar melalui media pembelajaran visual dan interaktif. Selama lima hari, agenda difokuskan pada bengkel kerja (workshop), pelatihan guru, simulasi pembelajaran, serta praktik di lapangan.

Media edukasi yang digunakan berupa buku ilustrasi ekosistem mangrove, modul pembuatan origami, peta interaktif, serta signage EGD (Environmental Graphic Design). Semua media telah dipersiapkan agar dapat digunakan lagi secara mandiri oleh pihak sekolah. Modul origami disusun dengan tahapan yang mudah diikuti, buku ilustrasi dicetak ulang sesuai kebutuhan, dan contoh signage EGD dirancang agar dapat direplikasi.

Workshop pertama dilaksanakan pada 27 Januari 2026 di ruang kelas SD Sakti Mulya dan diikuti oleh guru-guru dari SD Sakti Mulya dan SDN Mayangan. Kegiatan diawali dengan pengenalan konten buku ilustrasi yang nantinya dapat disampaikan kepada siswa kelas 5 dan 6. Sesi ini didampingi oleh Bu Uzda. Selanjutnya, Bu Intan memandu praktik pembuatan origami hewan-hewan yang hidup di ekosistem mangrove, seperti ular, burung, kepiting, dan ikan. Pada sesi berikutnya, Pak Ersto memandu pembuatan signage EGD yang direncanakan sebagai penanda habitat hewan di Pulau Burung.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang workshop, meskipun proses pembuatan origami dirasakan cukup menantang karena membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Tantangan tersebut juga dirasakan oleh tim instruktur. Namun, proses mencoba bersama, mengulang langkah, dan saling membantu justru menjadi bagian penting dari pengalaman belajar. Workshop berlangsung sekitar 3½ jam. Pada siang hari, agenda dilanjutkan dengan simulasi pemasangan signage EGD. Karena kondisi cuaca yang kurang mendukung, simulasi dilakukan di dalam ruang kelas dengan memanfaatkan meja, kursi, dan tali rafia sebagai media praktik.

Kegiatan berlanjut pada 28 Januari 2026 dengan simulasi pembelajaran oleh guru kepada siswa kelas 5 dan 6 dari kedua sekolah. Simulasi ini bertujuan agar kegiatan edukasi dapat berkelanjutan dan dilaksanakan secara mandiri oleh pihak sekolah. Proses pembelajaran dibagi ke dalam dua kelas yang berbeda.

Dalam pelaksanaannya, masing-masing sekolah menunjukkan pendekatan yang berbeda. SD Sakti Mulya memilih memulai kegiatan dengan metode storytelling menggunakan buku ilustrasi, sedangkan SDN Mayangan lebih menekankan pada praktik langsung pembuatan origami hewan mangrove. Pada salah satu sesi, guru terlihat mengalami kesulitan saat mengulang langkah pembuatan origami, tetapi siswa tetap menunjukkan antusiasme yang tinggi. Di SD Sakti Mulya, praktik origami akhirnya dibantu oleh tim dosen BINUS karena guru merasa belum cukup percaya diri untuk mempraktikkannya secara mandiri.

Simulasi lapangan dilaksanakan pada 29 Januari 2026. Siswa berangkat dari SD Sakti Mulya menuju Rumah Edukasi Mangrove dengan membawa misi yang telah disiapkan oleh tim peneliti. Sepanjang perjalanan, siswa diminta memasang origami hewan yang telah mereka buat pada signage hewan yang dipasang di area sekitar Rumah Edukasi Mangrove. Siswa yang berhasil memasang origami terbanyak mendapatkan hadiah. Selain itu, siswa juga ditantang untuk menghafal nama dan deskripsi hewan yang mereka temui selama proses berlangsung.

Setibanya di Rumah Edukasi Mangrove, kegiatan dilanjutkan dengan kuis mengenai hafalan hewan dan deskripsinya. Kuis dipandu oleh Bu Intan dan Bu Uzda dengan aturan sederhana: siswa yang ingin menjawab harus mengangkat tangan terlebih dahulu. Siswa yang menjawab dengan benar mendapatkan life vest dan tidak diperkenankan menjawab pertanyaan berikutnya. Suasana kuis berlangsung meriah, dan siswa berlomba menjawab secara sportif. Kegiatan hari itu ditutup dengan sesi foto bersama antara tim peneliti, guru, siswa, serta Kang Rissa sebagai perwakilan WJCTF.

Pada hari terakhir, 30 Januari 2026, tim peneliti menyerahkan seluruh modul edukasi dan bahan pendukung kepada SD Sakti Mulya dan SDN Mayangan. Penyerahan dilakukan melalui Kang Risa sebagai perwakilan WJCTF sekaligus mitra kegiatan. Diharapkan, media edukasi yang telah dikembangkan dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh sekolah sebagai sarana pembelajaran lingkungan yang kontekstual dan menyenangkan.

Melalui rangkaian kegiatan ini, pembelajaran tentang ekosistem mangrove tidak hanya disampaikan sebagai pengetahuan, tetapi juga sebagai pengalaman. Cerita, lipatan kertas, dan penanda ruang menjadi jembatan bagi siswa untuk mengenal dan memahami lingkungan pesisir secara lebih dekat.

 

This is a staging environment