Sebagai bagian dari upaya memperluas kerja konservasi, WJCTF memperkenalkan program baru bertajuk Wali Pesisir. Program ini menjadi langkah lanjutan dari semangat perlindungan […]
Sebagai bagian dari upaya memperluas kerja konservasi, WJCTF memperkenalkan program baru bertajuk Wali Pesisir. Program ini menjadi langkah lanjutan dari semangat perlindungan ekosistem pesisir yang selama ini dijalankan, sekaligus menjawab tantangan di lapangan yang terus berkembang.
Di kawasan Mayangan, kegiatan Wali Mangrove di Petak 31–33 Perhutani saat ini masih berada dalam status moratorium. Menyikapi kondisi tersebut, WJCTF mencoba pendekatan alternatif dengan melakukan penanaman mangrove menggunakan pot buis beton berukuran 40×100 cm. Buis beton ini disusun berjajar sebagai wadah substrat untuk uji tumbuh di area kavling tambak berstatus SHM yang tergenang air.
Selain sebagai media tanam, buis beton juga dirancang sebagai penahan ombak sekaligus perangkap sedimen. Program ini direncanakan menjadi studi perawatan selama dua tahun ke depan. Untuk tahap awal, dibutuhkan sekitar 30 buis beton sebagai spot percontohan dan keberlanjutan program.
Inisiatif ini termasuk dalam kausa Wali Pesisir, dengan skema pengasuhan selama dua tahun. Melalui Wali Pesisir, WJCTF membuka ruang partisipasi publik untuk ikut menjaga dan merawat bibit mangrove hingga tumbuh optimal, sebagai bagian dari gerakan bersama menjaga pesisir.
Program Wali Pesisir diharapkan menjadi model adaptif konservasi pesisir yang tetap berjalan meski di tengah keterbatasan, serta menjadi langkah nyata dalam menjaga ekosistem pantai secara berkelanjutan.