Tim WANADRI telah memasang alat IoT (Internet of Things) untuk memantau dinamika ketinggian muka air (TMA) laut di sekitar Basecamp Rumah Edukasi Mangrove (REM), yang terletak di desa Mayangan, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Alat ini juga memiliki fungsi sebagai prototip sistem peringatan dini Mayangan (Mayangan Early Warning System – MEWS) banjir rob yang rutin terjadi di wilayah ini. Selain sensor ultrasonik untuk mengukur ketinggian air, alat juga dilengkapi dengan sensor suhu, kelembaban dan satu set perangkat cuaca (Weather Station) yang kemudian semua data dikirim ke server Virtual Private Server (VPS) di Bandung untuk dapat diakses oleh publik melalui jaringan internet. Berikut topologi komunikasinya:

Topologi komunikasi sistem Pantau Laut Mayangan oleh WANADRI menerapkan beberapa teknologi yang didukung oleh berbagai pihak pemangku kepentingan, diantaranya PT Bio Farma (Persero) sebagi promotor, PT. Terakorp Indonesia sebagai penyedia layanan VPS dan komunikasi data, serta WJCTF sebagai pengelola sistem. Sistem dibangun sejak awal tahun 2025 dan dipasang pada bulan Juli 2025. Pada bulan Desember, satu alat pantau dipasang di Balai Desa Mayangan sebagai prototip untuk meningkatkan awareness masyarakat.
Artikel ini merupakan catatan atas pantauan sistem dalam beberapa hari kebelakang (tanggal 2 sd. tanggal 6 Desember 2025). Pantauan ini dilakukan sebagai respon atas fenomena hidrometeorologi yang sedang terjadi. Seperti kita ketahui, pada tanggal 4 Desember pukul 21.48 WIB merupakan puncak fase purnama atau disebut pasang perbani bulan Desember yang berbarengan dengan fase Cold Moon (bulan dingin, yang menandai awal pergantian musim dingin di belahan bumi utara). Fenomena ini juga berbarengan dengan kondisi yang disebut Supermoon, atau posisi bulan pada jarak terdekat dengan bumi. Dan puncak supermoon akan terjadi pada pada 06.14 WIB (tanggal 05/12). Ditambah lagi dengan musim hujan bulan Desember dengan intensitas dan curah hujan yang tinggi serta beberapa fenomena cuaca lain yang sedang terjadi. Diantaranya yang sedang menyita perhatian adalah Siklon Tropis Senyar yang kemudian memicu terjadinya banjir bandang, longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat pada 26 Desember 2025. Sampai artikel ini ditulis korban sudah mencapai 883 orang meninggal dunia, dan 512 orang hilang. Mari sejenak kita panjatkan do’a.


Kondisi fenomena alam yang istimewa ini dapat memicu banjir rob 20-30 cm lebih tinggi daripada biasanya. Sebagai informasi, banjir rob yang rutin terjadi 1-2x setiap bulan terpantau memiliki ketinggian 140cm sd. 160cm. Angka ini diukur dari permukaan tanah yang terendam air laut di sekitar basecamp REM. Dalam situasi surut ekstrim, permukaan tanah di titik tersebut dapat terlihat.

Pantauan Tinggi Muka Laut (TMA) tercatat 184.7 cm pada 4 Desember pukul 08.38 WIB. Angka ini merupakan rekor pasang tertinggi selama pantauan dilakukan. Hal ini selaras dengan prediksi almanak, namun pada jam yang sedikit berbeda.

Sesuai data almanak, tren koefisien setelah tanggal 4 akan cenderung menurun. Pengamatan pada tanggal 5 Desember, faktanya akurat. Data MEWS menampilkan TMA tertinggi pada 165.4 cm. Turun 20cm dibandingkan TMA hari sebelumnya. Namun demikian kondisi ini tentu saja masih cukup tinggi dibandingkan dengan rob regular. Pasang berlangsung selama 6 jam.

Pada pukul 16 WIB, terdapat kiriman foto dari Mantri Kehutanan, Pak Carma yang menginformasikan mengenai situasi air sungai Cipunagara. Seperti diketahui, terdapat dua sungai besar yang mengapit kecamatan Legon Kulon yaitu Sungai Cipunagara dan Sungai Ciasem. Yang menarik, pada foto tersebut terlihat juga sistem EWS yang sudah terpasang di Sungai Cipunagara.


Pada tanggal 6 Desember kembali dilakukan pengamatan, dan ternyata TMA yang sebelumnya diprediksi turun sesuai dengan data almanak, ternyata malah meningkat. Asumsinya, peningkatan TMA ini terjadi karena adanya air kiriman dari hulu sungai Cipunagara dan Ciasem, serta kondisi curah hujan dalam 3 hari ini yang cukup tinggi.

KESIMPULAN SEMENTARA
- Fenomena khusus saat pasang Perbani dalam hal ini Coldmoon dan Supermoon memberikan dampak pada dinamika TMA seperti tercatat pada MEWS yang meningkatkan TMA mencapai 25cm dibandingkan ketinggian rob pada umumnya.
- Data almanak dapat dijadikan panduan namun akurasinya sangat tergantung pada faktor eksternal
- Faktor eksternal antara lain: debit sungai, curah hujan, kondisi tanggul.
- Pasang dan surut tertinggi dalam orde 4 sd. 6 desember yaitu tertinggi 184.7cm dan terendah 35.4cm, sehingga selisihnya adalah 149,3cm
