Sebagai bagian dari agenda evaluasi Rencana Kerja Tahunan (RKT) 2021–2025, Balai Besar KSDA Jawa Barat (BBKSDA Jabar) dan WANADRI melakukan rangkaian kegiatan monitoring lapangan dan evaluasi bersama pada 30–31 Oktober 2025. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk meninjau capaian, menilai efektivitas kerja sama, serta memperkuat sinergi dalam pengelolaan kawasan konservasi Taman Buru Masigit Kareumbi (TBMK).
Pada Kamis, 30 Oktober 2025, Tim Lapangan TBMK bersama Kepala Bidang Teknis BBKSDA Jabar melaksanakan monitoring lapangan ke sejumlah titik kegiatan. Kunjungan ini menyoroti berbagai program yang telah berjalan, seperti pemasangan pagar perluasan kandang umbar Rusa Timorensis, persemaian tanaman native untuk pemulihan ekosistem, serta peninjauan area sabana dan aviary di dalam kawasan umbar rusa seluas ±45 hektare.
Selain itu, tim juga meninjau persemaian bambu yang disiapkan untuk penanaman di lahan carik desa sebagai upaya mengurangi tekanan terhadap kawasan konservasi, dan lokasi penanaman wali pohon di Blok Gedud, yang merupakan bagian dari plot tanam PLN tahun 2022.
Kegiatan lapangan diakhiri dengan diskusi dan evaluasi di Saung Edukasi. Berbagai masukan disampaikan oleh BBKSDA untuk peningkatan kualitas pelaksanaan program di lapangan. Suasana berlangsung hangat dan konstruktif, mencerminkan semangat kerja sama yang kuat antara tim TBMK dan BBKSDA Jabar.
Keesokan harinya, 31 Oktober 2025, kegiatan dilanjutkan dengan Rapat Evaluasi RKT 2021–2025 di Ruang Rapat Saninten, Balai Besar KSDA Jawa Barat. Rapat dihadiri oleh perwakilan Direktorat Perencanaan Konservasi, BBKSDA Jabar, serta mitra pelaksana. Dalam kesempatan tersebut, Ibu Marionni dari Direktorat Perencanaan Konservasi menyampaikan hasil penilaian kerja sama antara BBKSDA dan WANADRI yang memperoleh nilai 94 (kategori Baik), dengan catatan tata kelola administrasi dinilai rapi, lengkap, dan mudah dievaluasi.
Beberapa poin pembahasan penting mencakup pengelolaan sarana dan prasarana (sapras), pencatatan Barang Milik Negara (BMN), serta pembenahan sistem pencatatan bibit persemaian agar lebih tertata. Selain itu, disarankan agar sebelum perpanjangan PKS, dilakukan penyelesaian terhadap hal-hal yang belum terealisasi, termasuk pengembangan taman buru dan area konservasi rusa.
Dari sisi lapangan, Pa Erry dari BBKSDA Jabar melaporkan adanya 78 kasus konflik satwa (matul) sepanjang tahun dengan puncak kejadian pada September–Oktober 2025, serta menekankan pentingnya pendataan konflik satwa lainnya untuk strategi mitigasi masa depan.
Kegiatan evaluasi ini ditutup dengan rencana tindak lanjut berupa penyusunan laporan hasil evaluasi PKS dan BMN, pembenahan sistem persemaian, serta koordinasi lanjutan untuk pengembangan taman buru dan mitigasi konflik satwa liar.
Seluruh rangkaian kegiatan ini menunjukkan komitmen bersama antara BBKSDA Jawa Barat, WANADRI, dan tim TBGMK untuk terus memperkuat tata kelola konservasi, meningkatkan efektivitas program di lapangan, dan menjaga keberlanjutan ekosistem di kawasan Gunung Masigit Kareumbi.
