HomeBlogKonservasiWaliWartaTim Wali Hutan Mencoba Metode Baru Pembibitan Bambu

Tim Wali Hutan Mencoba Metode Baru Pembibitan Bambu

Sudah lebih dari satu tahun tim melakukan berbagai percobaan untuk menemukan formula pembibitan bambu yang paling efektif. Tujuannya sederhana: mencari kombinasi bahan, media tanam, dan metode perawatan yang mampu memacu pertumbuhan tunas secara optimal. Beragam pendekatan telah dicoba, mulai dari penggunaan ZPT kimia hingga bahan organik, variasi media tanam seperti tanah, humus, sekam, dan pupuk organik cair (POC) akar bambu, sampai dengan metode penyiraman dan penyimpanan bibit dengan kondisi berbeda.

Sampai akhirnya pada akhir September, Tim Wali Hutan melakukan percobaan pembibitan menggunakan bawang merah dan bawang putih. Tim menggunakan empat metode perendaman yaitu: 1) Bawang merah + air (tertutup) 2) Bawang merah + air (terbuka) 3) Bawang putih + ZPT (tertutup) 4) Bawang putih + ZPT (terbuka).

Seluruh perlakuan menggunakan air murni tanpa tambahan bahan lain. Pengamatan akan dilakukan selama satu bulan dengan pergantian air setiap tujuh hari. Hasil awal menunjukkan bahwa metode tertutup lebih efektif baik pada perlakuan bawang merah maupun bawang putih karena tunas mulai muncul pada dua bibit dari tiap metode tersebut. Pada sistem terbuka, kemunculan tunas lebih lambat.

Setelah mendapatkan hasil tersebut, tim kemudian melakukan dua perlakuan baru yang pertama bibit dioles bawang merah, direndam dalam ZPT auksin selama 10 menit, lalu direndam di air murni kemudian dengan perlakuan serupa, tetapi ditutup plastik wrap sebelum direndam. Setelah 11 hari, kedua metode ini belum menunjukkan kemunculan mata tunas.

Percobaan selanjutnya masih menggunakan dua metode yang sama. Namun, kali ini bibit ditanam di polybag dan disimpan dalam sungkup dengan dua perlakuan yang berbeda yaitu tanpa penutup plastik pada bagian atas dan dengan penutup plastik di bagian atas bibit. Hasilnya cukup menjanjikan. Pada hari ke-11, metode pertama menghasilkan 3 tunas dari 20 bibit, sedangkan metode kedua menunjukkan hasil lebih baik: 13 tunas dari 30 bibit. Keterbatasan pada uji ini adalah penggunaan plastik sungkup biasa, bukan jenis yang memiliki perlindungan UV.

Percobaan terakhir difokuskan pada komposisi media tanam, menggunakan campuran rabuk dan sekam dengan rasio 2:1. Dari total 80 batang bibit, 16 di antaranya telah menunjukkan pertumbuhan mata tunas setelah lebih dari dua minggu.

Kesimpulan sementara dari uji coba ini menunjukkan bahwa kombinasi lingkungan tertutup (sungkup) dan komposisi media tanam yang tepat memberi hasil paling baik untuk pertumbuhan tunas bambu. Tim akan terus memantau perkembangan bibit serta melanjutkan eksperimen dengan variasi bahan dan kondisi penyimpanan untuk menemukan formula yang ideal.

This is a staging environment