HomeBlogEventsKolaborasiKonservasiTrust FundWaliWartaSurvey Mangrove di Desa Kaki Air

Survey Mangrove di Desa Kaki Air

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Buru eXpedition 2025, tim ICDP–WJCTF Wanadri bersama tim ekspedisi melakukan survei lokasi penanaman dan uji sampel lingkungan di Desa Kaki Air Kabupaten Buru. Kegiatan ini dilakukan untuk memetakan lokasi dan komunitas sosial yang akan menjadi mitra konservasi mangrove berkelanjutan. Desa ini dipilih karena telah aktif melakukan penanaman dan perawatan mangrove sejak 2021, dengan total area kelola mencapai 15 hektare dan jumlah bibit yang sudah ditanam mencapai 63 ribu pohon.

Rencana ke depan, masyarakat Desa Kaki Air yang dipimpin langsung oleh Ibu Kepala Desa Rahmawati Dafrullah (53) akan memperluas area penanaman hingga 25 hektare dengan tambahan 60 ribu bibit baru. Desa ini juga dikenal sebagai desa wisata pesisir dengan ciri khas rumah panggung “terapung” yang berdiri di muara Sungai Waeapo — sungai bersejarah yang dahulu menjadi jalur transportasi tahanan politik di masa lalu.

Survei kali ini melibatkan berbagai pihak, antara lain perwakilan warga (Pak Erik dan Pak Anto), personel dari Kodim 1506/Namlea, tim dokumentasi Wanadri, serta perwakilan ekspedisi yang dipimpin oleh Wakil Ketua Umum Ekspedisi, Darmanto.

Dalam kegiatan tersebut, tim juga melakukan pengambilan sampel air dan sedimen untuk melihat kelayakan lahan dalam mendukung penanaman mangrove baru. Parameter yang diuji meliputi TDS (Total Dissolved Solids), pH, serta melihat potensi kandungan merkuri (Hg). Selain sampel sedimen dari lokasi mangrove, tim juga mengambil air minum yang didapat warga dari air hujan, air disekitar pemukiman dan air di daerah penanaman.

Hasil sementara menunjukkan bahwa kualitas air masih relatif baik, sementara sampel sedimen perlu dilakukan pengambilan ulang karena beratnya belum mencukupi (kurang dari 0,5 kg).

Berdasarkan pengalaman warga, tingkat keberhasilan tumbuh bibit mangrove di desa ini mencapai 90%, yang menjadi indikasi positif terhadap kondisi lingkungan dan kualitas air di kawasan tersebut. Adapun pola penanaman yang lazim dilakukan dan memiliki tingkat daya hidup yang baik adalah dengan menggunakan pola rumpun berjarak dimana satu titik ditanam 5 buah propagul dengan jarak titik 1×1 meter dan rumpun berukuran 10×10 meter.

Meski demikian, tim tetap menyoroti ancaman terhadap ekosistem pesisir, terutama risiko pencemaran air akibat aktivitas tambang di sekitar Teluk Kaiely, yang berpotensi memengaruhi kualitas perairan di Desa Kaki Air.

Menariknya, masyarakat lokal juga berperan aktif dalam kegiatan survei. Di antaranya Pak Erik Husaeni, Ketua Kelompok Penanaman Dewi Berseri sekaligus Wakil BPD Desa Kaki Air, serta Pak Anto Khaerun, Bendahara Kelompok Penanaman Tongke Wister.

Tim berharap, program mangrove di Desa Kaki Air dapat berlanjut dan memberikan manfaat ganda: memperkuat kawasan ekowisata pesisir, sekaligus menjadi sistem fitoremediasi alami yang mampu menyaring logam berat seperti merkuri. Dengan demikian, penanaman mangrove bukan hanya upaya ekologis, tapi juga investasi sosial dan lingkungan jangka panjang bagi masyarakat Pulau Buru.

This is a staging environment