Di tengah hiruk pikuk agenda Buru eXpedition 2025, ada satu kegiatan yang terasa begitu dekat dengan denyut kehidupan masyarakat: layanan kesehatan gratis. Bukan sekadar pemeriksaan umum, melainkan juga operasi katarak—sebuah harapan baru bagi ratusan warga yang selama ini hidup dengan pelihatan terbatas.
Selama tiga hari, 17–19 September 2025, aula Kantor Bupati Buru dan RSUD Namlea menjadi saksi ramainya warga yang datang. Sebanyak 503 orang mendaftar untuk pemeriksaan mata, 373 di antaranya hadir untuk registrasi, dan 119 pasien akhirnya menjalani tindakan operasi katarak. Sementara itu, layanan kesehatan umum juga tak kalah mendapat sambutan: dari 79 orang yang terdaftar, 66 hadir dan mendapatkan pemeriksaan serta obat-obatan.
Menurut dr. Bambang Setiohadji, Sp.M, salah satu dokter spesialis mata dari Wanadri, kegiatan ini lahir dari kebutuhan yang mendesak. “Kebutaan katarak banyak terjadi di Buru, tapi di sini belum ada dokter spesialis mata. Selama ini, pasien harus menempuh perjalanan jauh ke Ambon dengan biaya yang tidak sedikit. Itu sebabnya kami membawa layanan ini langsung ke Namlea,” tuturnya.
Kondisi kesehatan mata di Pulau Buru selama ini memang cukup memprihatinkan. Angka kebutaan katarak di Kabupaten Buru relatif tinggi, tetapi penanganan masih terbatas. Selain ketiadaan layanan spesialis, faktor geografis dan biaya transportasi membuat banyak penderita menunda bahkan mengurungkan niat untuk berobat.
Tak heran bila respons masyarakat begitu hangat. Seorang warga dari Waemorat, Ibu Ijah, mengaku sangat bersyukur bisa mendapat layanan ini. “Senang, karena gratis. Sudah hampir dua tahun sakit mata, tapi saya takut operasi karena tidak ada biaya. Begitu bidan bilang ini gratis, saya langsung datang,” ujarnya.
Program ini terlaksana berkat kolaborasi banyak pihak: Wanadri, PERDAMI, Klinik Mata Vlissingen Ambon, RSUD Namlea, Kesdam XV/Pattimura, serta dukungan dinas kesehatan provinsi dan kabupaten. Bukan hanya soal medis, tapi juga soal logistik, peralatan, dan obat-obatan yang semuanya diupayakan bersama.
Meski sukses, tantangan tetap ada. Identifikasi pasien, pembagian zona layanan, hingga keterbatasan waktu menjadi pekerjaan besar di lapangan. Namun, antusiasme warga membuat tim kesehatan merasa usaha ini sepadan. “Idealnya, program seperti ini berlanjut. Namun, tentu butuh sarana dan dukungan berkesinambungan agar bisa dilakukan secara berkala,” kata dr. Bambang menambahkan.
Operasi katarak gratis di Namlea ini akhirnya bukan sekadar rangkaian dari sebuah ekspedisi. Ia menjelma sebagai simbol: bahwa ekspedisi bukan hanya menaklukkan alam, tapi juga mengembalikan cahaya bagi manusia yang tinggal di dalamnya.
