Dalam rangka inventarisasi keanekaragaman hayati, tim melakukan kunjungan ke Curug Sabuk sebagai salah satu titik di kawasan konservasi yang masih dikenal sebagai habitat ikan hikeu. Ikan air tawar ini, yang juga disebut ikan hikeu (Neolissochilus longipinnis), termasuk keluarga Cyprinidae dan dapat tumbuh hingga panjang hampir setengah meter. Di Pulau Jawa dan Sumatra, spesies ini menempati posisi penting dalam ekosistem sungai pegunungan.
Kegiatan di Curug Sabuk tidak hanya berfokus pada pengamatan, tetapi juga mencakup rencana pemindahan beberapa ekor ikan hikeu untuk dilepasliarkan di aliran sungai sekitar basecamp TBGMK. Tim berharap langkah ini dapat membantu memperkuat populasi di area basecamp serta menjaga keseimbangan ekosistem air.

Selain itu, tim juga melakukan patroli area curug sekaligus pendataan flora, fauna, dan tekanan kawasan. Sepanjang jalur pendataan, ditemukan beberapa pohon saninten yang masih berdiri kokoh, tetapi juga terlihat tekanan dari aktivitas manusia. Di beberapa titik, tim menemukan kebun kopi di area Sadapan serta saung-saung cukup besar yang kerap dipakai untuk memarkir motor. Aktivitas semacam ini menjadi catatan penting, mengingat kawasan konservasi rentan terhadap gangguan antropogenik.
Malam harinya, tim melanjutkan kegiatan dengan melakukan pengamatan satwa malam di tepian sungai. Beberapa spesies yang berhasil dicatat antara lain:
1. Phrynoidis asper – kodok puru sungai
2. Odorrana hosii – kongkang racun betina
3. Xenodermus javanicus – ular naga jawa
4. Leptophryne borbonica – salah satu jenis amfibi penghuni hutan basah
Catatan lapangan ini menegaskan bahwa Curug Sabuk masih menyimpan kekayaan biodiversitas yang tinggi, baik ikan, amfibi, maupun reptil. Namun, tekanan dari aktivitas manusia tetap menjadi tantangan yang harus segera diantisipasi agar kawasan ini dapat terus menjadi rumah bagi spesies endemik seperti ikan hikeu.
