HomeBlogKolaborasiKonservasiTrust FundWaliWartaBinus University Di Mayangan

Binus University Di Mayangan

 “Apakah boleh saya dan keluarga balik lagi ke Rumah Edukasi Mangrove dengan tujuan menikmati keindahan mangrove bukan dalam rangka dinas?” Demikian pertanyaan salah seorang dosen yang mengikuti kegiatan survei BINUS University Bandung di Legon Wetan Kabupaten Subang, 21 – 23 Juli 2025.

Pertanyaan sederhana itu membuat kru dan tim lapangan gembira karena dapat diartikan sang dosen merasa puas dan menyatakan ingin kembali datang. Tentu saja, Rumah Edukasi Mangrove di Desa Mayangan Kabupaten Subang sangat terbuka menerima kunjungan dari siapa pun.

BINUS University Bandung, sesuai dengan rencana awal, telah melakukan kegiatan survei tentang pengetahuan mangrove terhadap anak-anak prasekolah, serta siswa Sekolah Dasar dan SMKN 1 Legon Wetan. Tim survei dari BINUS University beranggotakan 4 mahasiswa yang merupakan Genzi dan 7 dosen.

Pada hari pertama kegiatan dimulai dengan berkeliling melihat lokasi penanaman mangrove yang berhasil tumbuh baik. Kegiatan dilanjutkan dengan simulasi menanam mangrove. Tiga mahasiswa dan empat dosen merasakan langsung sensasi menjejak lumpur dan menanam bibit mangrove. Selain itu, mereka juga belajar memetik dan memilih bibit yang siap tanam di pembibitan. Tim lalu menelusuri kasus kegagalan pertumbuhan mangrove dengan melihat langsung lokasi tanaman yang mati. Mereka pun menyempatkan diri melihat abrasi di Pulau Burung. Perrjalanan hari itu ditutup dengan menyusuri hutan mangrove yang hijau dan rindang menuju Desa Tegalurung. Keindahan hutan mangrove sangat berbekas di hati para mahasiswa dan dosen.

Pada hari kedua, tim terbagi menjadi empat kelompok untuk berkeliling sekolah. Mereka melakukan wawancara warga dan anggota SIPUT (Siaga Pesisir Utara). Kemudian, pada hari terakhir tim melakukan evaluasi dan persiapan untuk kegiatan lanjutan yang akan diselenggarakan pada September atau November 2025.

Kegiatan survei tim BINUS University Bandung di Mayangan tersebut berjalan lancar sesuai dengan rencana yang dipaparkan pada 14 Juli 2025. Kegiatan tersebut melibatkan berbagai pihak, termasuk Yayasan Wanadri, perwakilan perguruan tinggi, kepala desa, serta praktisi pendidikan dan lingkungan..

Dalam paparannya, Kang Irawan Marhadi selaku Direktur Utama WJCTF menekankan pentingnya keterlibatan lintas sektor, mulai dari akademisi hingga media untuk mendukung penguatan gerakannya. Ia menyampaikan gagasan mengenai pengembangan environmental graphic design yang tidak hanya berfokus pada isu mangrove, tetapi juga mencakup pendekatan edukatif terhadap isu-isu besar seperti perdagangan karbon (carbon trading) dan adaptasi kawasan tambak menjadi ruang pendidikan alternatif, termasuk rencana pembangunan kampus terapung di lahan seluas 11 hektar.

Sementara itu Kang Ersto menyoroti pengalaman edukasi sebelumnya yang melibatkan anak-anak PAUD hingga SMA dalam kegiatan mangrove. Ia menilai bahwa metode pembelajaran langsung di lapangan mampu meningkatkan pemahaman serta kepedulian anak-anak terhadap lingkungan sekitar. Selama dua hari satu malam Mahasiswa Genzi dan dosen berada di Mayangan. Semangat para kaum Genzi dalam berkegiatan untuk lingkungan serta pendidikan ini perlu kita apresiasi serta diberi runag untuk terus berkembang dengan harapan dapat melahirkan semangat dari para kaum Genzi lainnya.

This is a staging environment