HomeBlogWaliWartaPopulasi Macan di TBMK Mengkhawatirkan?

Populasi Macan di TBMK Mengkhawatirkan?

Populasi macan di Kawasan Taman Buru Masigit Kareumbi (TBMK) mengkhawatirkan? Sejauh ini, semua hasil tangkapan kamera memperlihatkan hanya dua individu macan tutul berjenis kumbang (hitam) yang teridentifikasi di TBMK. Kedua individu macan ini berjenis kelamin jantan dan betina. Kehadiran individu jantan dewasa yang telah dinamai ‘Ebeng’ ini terdeteksi sejak tahun 2016 saat memangsa rusa jawa di dalam kandang.

Demikian disampaikan Koordinator Lapangan Program Inventarisasi Macan Tutul di TBMK, Agung Ganthar pada acara Pemaparan Laporan Kegiatan Akhir Tahun 2023 di Basecamp KW Taman Buru Masigit Kareumbi, Kamis (21 Desember 2023). Program Inventarisasi Macan Tutul merupakan kerja sama antara Yayasan Wanadri – BBKSDA Jabar – PT Biofarma (Persero).

Dalam paparannya, Agung Ganthar menyebutkan bahwa hasil identifikasi tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai jumlah pasti individu macan dalam kawasan. Jika benar tidak ada lagi individu lainnya, maka populasi macan di kawasan merupakan masalah yang sangat fatal dan diperlukan keputusan dari BBKSDA selaku pemangku kawasan. Oleh karena itu, berdasarkan hasil pertemuan yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) tersebut, tim masih perlu melakukan pengambilan data (pengulangan) dengan peningkatan kerapatan kamera jebak agar mencakup lebih banyak grid habitat macan.

Agung Ganthar juga menambahkan bahwa analisis individu macan tutul jawa sampai saat ini masih dilakukan secara manual, khususnya dengan membandingkan bentuk fisik macan (jenis kelamin, pola tutul, bekas luka, proporsi kepala) yang tertangkap gambar atau videonya oleh kamera jebak.

Sementara itu, hasil identifikasi mangsa dari macan tutul jawa berdasarkan analisis feses secara makroskopis dan mikroskopis menunjukan bahwa satwa yang dimakan macan di Kareumbi adalah rusa jawa (Cervus timorensis), luwak (Paradoxurus hermaproditus), ayam hutan (Gallus sp.), landak (Hystrix javanica), kukang jawa (Nycticebus javanicus), musangrase (Viverricula indica), dan yang terbanyak adalah babi hutan (Sus scrofa). Keragaman jenis satwa mangsa ini memperlihatkan bahwa macan merupakan satwa oportunis generalis, yang bergantung pada ketersediaan, kelimpahan, dan kesempatan dalam memangsa satwa.

Pada pendataan berikutnya tim perlu melakukan analisis lebih lanjut mengenai rambut pada sampel feses hingga uji genetik agar data yang dihasilkan lebih akurat, Bahkan, pada gilirannya nanti, tim perlu mengumpulkan sampel rambut mamalia hingga unggas kecil yang menjadi mangsa macan untuk basis data (database) dan pembanding saat analisis rambut dilakukan.

Keinginan dan harapan untuk melanjutkan program pendataan ini tentunya bergantung kepada kesediaan semua pemangku kepentingan yang terlibat saat ini. Selain itu, semoga makin banyak lagi pihak yang terlibat bahu-membahu sehingga program dapat terus berjalan dan kita dapat menjaga keberlangsungan hidup macan tutul jawa di habitatnya. (tif).

This is a staging environment