Upaya untuk mencapai kebaikan memang tak selalu berjalan mulus. Seperti mendaki puncak gunung, untuk mencapai kebaikan juga memerlukan usaha keras dan semangat pantang menyerah. Kondisi seperti itulah yang muncul ketika Wanadri berusaha membangun kembali ekosistem Pantai Utara Jawa Barat. Tidak mudah! Berbagai kendala dan rintangan muncul, baik dari faktor manusia maupun alamnya.
Pembangunan ekosistem tersebut juga tidak bisa dilakukan hanya
dengan kegiatan musiman, tetapi harus dilakukan dengan kegiatan
yang terstruktur dan berkelanjutan. Oleh karena itu, Wanadri melalui
Yayasan Wanadri dan unit kerja WJCTF (West Java Conservation Trust Fund) membuka peluang berbagai pihak untuk berkolaborasi melestarikan ekosistem dan mendukung kesejahteraan masyarakat di Pantai Utara Jawa Barat.
Secara umum, WJCTF dapat disebutkan sebagai wadah kemitraan penggalangan dana untuk konservasi lingkungan dan sumber daya di Jawa Barat. Berbagai program konservasi telah dan terus dijalankan oleh WJCTF di berbagai matra. Salah satunya adalah matra pesisir dan laut di Pesisir Utara Subang Jawa Barat dengan program kolaborasi kemitraan Wali Mangrove. Berbagai kegiatan pun dilaksanakan untuk menunjang pembangunan ekosistem tersebut, di antaranya adalah pelatihan patroli pesisir, pembinaan usaha kecil, serta pelatihan-pelatihan lainnya untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dan menghijaukan kembali hutan mangrove di Pantura Jabar. Sebagai sarana pelatihan, Yayasan Wanadri
dengan bantuan berbagai pihak dan sponsor juga telah mendirikan Rumah Edukasi Mangrove di Desa Mayangan Kabupaten Subang, yang menjadi basecamp dan sarana belajar bersama.
Basecamp Rumah Edukasi ini menjadi simpul pada saat menjalankan berbagai kegiatan, termasuk menyelesaikan masalah dan kendala yang muncul. Sebagai contoh, ketika terjadi musibah tanggul empang masyarakat yang jebol dan airnya membanjiri pemukiman. Jebolnya tanggul dengan panjang ±8 meter dan lebar 2 meter pada sisi timur dekat
permukiman warga. Jebolnya tanggul tersebut juga menjadi kendala untuk pembibitan mangrove.
Peristiwa tanggul jebol itu diduga akibat pasang air laut yang tinggi didorong oleh angin dari barat, karena memang wilayah Indonesia
sudah memasuki musim angin baratan yang biasa datang pada akhir tahun. Penyebab lainnya diduga karena area tersebut menjadi akses pintu keluar-masuk perahu blong/getek warga pencari kerang, kepiting, ikan, rajungan, dan biota laut lainnya. Hal itu terbukti dengan tiga kali kejadian yang sama (3 kali tanggul jebol). Alhamdulillah,
walaupun belum tuntas, masalah sudah teratasi pada Desember 2023.
Tim telah membangun kembali tanggul tersebut dengan dibantu oleh
lima warga setempat dan berkolaborasi dengan Kepala Desa Mayangan, Pak Darto. Perbaikan tanggul masih dikerjakan karena masih ada empat titik tanggul yang jebol dan belum diperbaiki di sebelah barat bagian luar empang 2 ha tersebut. Perbaikan tanggul tersebut tetap akan dilakukan dengan bekerja sama Kantor Desa Mayangan.
Kegiatan akan berlanjut pada ploting tanaman mangrove yang sudah ditanam. Kendala yang muncul pada kegiatan ini adalah banyak mangrove yang mati akibat kondisi lahan yang terendam air pasang tinggi dan kegiatan warga yang hilirmudik dengan perahu mereka. Oleh karena itu, tim memandang perlu melakukan pemagaran dengan bambu dan pemasangan plang himbauan atau larangan melintas ke lahan mangrove. Ploting mangrove juga berguna untuk menghitung angka tanaman yang hidup dan mati supaya mendapatkan data yang akurat sebagai riset acuan pelaporan kepada Wali Mangrove yang komprehensif. (sur)
