HomeBlogKonservasiSpeciesWartaPELEPASAN MACAN TUTUL DI HALIMUN SALAK

PELEPASAN MACAN TUTUL DI HALIMUN SALAK

Pada 23 Mei 2023, Wahyu – seekor macan tutul jawa (Panthera pardus melas) jantan dewasa – telah kembali lepas liar ke habitat barunya di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Pada tahun 2017 Wahyu tertangkap karena terlibat konflik dengan masyarakat di daerah Cianjur Selatan. Ketika itu umur Wahyu diperkirakan baru sekitar 10 bulan, terlalu muda untuk langsung lepas liar kembali. Wahyu kemudian direhabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga.
Rehabilitasi Wahyu muda bukan hanya pemulihan dan pemeliharaan, melainkan juga dilakuan “pelatihan” terutama pelatihan insting liarnya untuk dapat berburu dan bertahan hidup. Wahyu adalah macan tutul jawa kedua hasil rehabilitasi kandang sedari anak yang dilepasliarkan. Setahun sebelumnya, Rasi – seekor macan betina yang saat rescue (2019) baru berusia sekitar 3 bulan – lepas lepas liar di Taman Nasional Gunung Ceremai. Mengapa perlu menunggu enam tahun untuk Wahyu lepas liar?
Rasi dan Wahyu adalah upaya terobosan dalam aksi konservasi macan tutul jawa. Pelepasliaran macan tutul yang belum pernah bertahan hidup mandiri di alam memang harus melalui pertimbangan matang dan cukup rumit. Penentuan lokasi saja menjadi hal krusial saat melepas macan tutul jantan. Perilaku teritorial agresif antarpejantan dan potensi konflik ikutan dengan manusia menjadi bahan pertimbangan yang serius. Apalagi, informasi pendukung yang berkaitan dengan kantung habitat “matulja” masih sangat minim. Kita harus mencari kantung habitat mana yang siap menerima pendatang jantan, terutama pejantan hasil rehabilitasi kandang. TNGHS kemudian dipilih berdasarkan kesesuaian daya dukung habitat yang dinilai baik. Lokasinya pun ditetapkan cukup jauh dari area permukiman masyarakat, yaitu di area geotermal Star Energy.

Apakah kemudian pelepasliaran Wahyu diharapkan meningkatkan populasi macan tutul di TNGHS? Nyatanya, TNGHS merupakan kantung habitat macan tutul dengan populasi yang cukup padat. Malahan, beberapa saat setelah pintu kandang habituasi Wahyu dibuka, seekor macan tutul betina melintas persis di depan lorong pelepasliaran.
Situasi yang cukup menegangkan bagi tim teknis pelepasliaran!

Beberapa jam kemudian, Wahyu memutuskan keluar dari hunian sementaranya yang kecil. Sulit menggambarkan kelegaan tim pelepaspiaran. Perlu dipahami, harapan terbaik pelepasliaran Wahyu bukan semata untuk meningkatkan populasi atau sekadar mengembalikannya ke alam liar, melainkan menghindarkannya dari ancaman utama kelestarian macan tutul jawa, yaitu degradasi terutama fragmentasi habitat. Kantung-kantung habitat “matulja” terputus-putus satu sama lain oleh aktivitas manusia sehingga alur percampuran genetik antarsub-populasi pun terputus. Kehadiran Wahyu yang membawa informasi genetik dari sub-populasi Cianjur Selatan diharapkan membawa percampuran genetik baru pada sub-populasi “matulja” di TNGHS.

Sebelum menjalankan misi mulianya membawa percampuran genetik, setelah dilepasliarkan Wahyu harus dapat bertahan hidup secara mandiri terlebih dahulu. Saat ini keberadaan Wahyu masih dipantau melalui camera trap yang dipasang oleh TNGHS. Semoga Wahyu dapat menyusul kesuksesan Rasi yang telah mandiri di hutan Gunung Ciremai dan membuka harapan baru bagi kelestarian kucing besar terakhir, sang penjaga keseimbangan ekosistem hutan Pulau Jawa.

This is a staging environment