Pengambilan bambu dan rabuk (humus hutan) masih jadi temuan tim Patroli Wali Hutan di Kawasan Taman Buru Masigit Kareumbi. Tim melakukan patroli tiga kali dalam seminggu tiga kali di area adopsi Wali Hutan serta pemeriksaan (checking) area Wali Pohon. Seperti kita tahu, semua bentuk pengunduhan hasil hutan, baik kayu maupun non-kayu harus dilakukan dibawah izin. Apabila dilakukan tanpa izin, kami memberikan klasifikasi sebagai tekanan. Di area Wali Hutan seluas 7 ha, sejak Januari 2023 temuan terbanyak adalah pengunduhan bambu dengan berbagai cara dan tujuan. Beberapa jenis bambu diambil secara gelondongan untuk kemudian diangkut menggunakan sepeda motor atau mobil bak terbuka. Bambu yang diambil dalam bentuk potongan dengan ukuran kurang lebih 1 meter biasanya akan dipakai sebagai bahan kerajinan sapu, serta bambu turus/ tiang yang digunakan oleh petani untuk menyangga tanaman sayur mereka.
Temuan terbanyak pada patroli 11 Januari 2023:
1. Temuan 2 ikat bambu turus di area Tanduk.
2. Temuan 5 ikat bambu turus di area Biofarma
(plot A karvak f ).
3. Temuan 2 ikat bambu di area Biofarma (plot A
karvak g).
4. Temuan 6 ikat bambu turus di area Biofarma
(plot A karvak b).
5. Temuan 2 ikat bambu turus di area macadam
arah CG C.
Sementara itu, temuan pengambilan rabuk atau humus sudah terdeteksi dari temuan tim patroli pada bulan Januari. Rabuk merupakan tanah yang sangat subur terbentuk dari pelapukan daun dan batang pohon. Rabuk terkenal sebagai sisa-sisa tumbuhan yang mengalami perombakan oleh organisme dalam tanah, berwarna hitam kecoklatan, dan memiliki kandungan organik pada bagian atas tanah. Rabuk memiliki kontribusi besar bagi kesuburan tanah karena menjadi sumber makanan bagi tanaman dan berperan besar dalam pembentukan struktur tanah. Hal itu karena rabuk berdaya serap tinggi sehingga mengandung banyak air
Rabuk juga mampu mengikat bahan kimia toksik dalam tanah dan air, dapat meningkatkan kandungan air tanah, mencegah erosi, menaik-kan aerasi tanah, serta dapat meningkatkan fotokimia dekomposisi pestisida atau senyawa organik toksik, Rabuk dapat menggantikan peran pupuk buatan karena terbentuk dari pelapukan tumbuhan, kotoran, dan tanah untuk mendorong pertumbuhan akar berkembang lebih baik (sumber:rimbakita.com).
Dalam perbincangan dengan pelaku pengam-bilan rabuk, tim mendapat informasi bahwa rabuk digu-nakan untuk campuran di la-han kebun dan pembibitan sayuran. Cara itu telah dilakukannya sejak lama.
Biasanya, petani mengambil rabuk saat akan memasuki musim tanam atau saat pembibitan. Tidak hanya untuk pertanian di sekitar kawasan, warga juga sering mengambil rabuk untuk persemaian dan media tanam tanaman hias yang biasa dijual.
Untuk penanganan dua tekanan tersebut, tim lapangan melakukan pendekatan dan memberi edukasi tentang kawasan dan bahaya-bahaya yang akan timbul apabila masih terjadi pengambilan bambu dan rabuk. (nid)
