Saat Kabupaten Limbangan dibubarkan Daendels pada tahun 1811, Papandak adalah salah satu distriknya, selain Baloeboer, Malangbong, Wanaradja, Wanakerta, dan Tjibeureum. Setelah Kabupaten Limbangan dibentuk kembali pada tahun 1813, Papandak menjadi salah satu desa di Distrik Wanaradja. Namun yang menjadikan Kampung Papandak terkenal adalah keindahan pemandangan dan arsitektur rumahnya.
Model arsitektur atap bangunan khas yang dikenal dengan nama Julang Ngapak dengan bahan material yang terdiri dari kayu, bambu, dan atap terbuat dari ilalang atau ijuk dengan hiasan cagak gunting ini dahulu dapat ditemukan di tepi talagabogas. Syahdan, bentuk atap ini kemudian digunakan pada bangunan di sebuah kampus di kota Bandung.
Pada tanggal 6 November 1929 dilaporkan terjadi kebakaran besar yang menyebabkan terbakarnya 121 rumah, termasuk 3 mesjid dan lumbung (leuit) disana. Kerugian ditaksir mencapai 30-40 ribu gulden. Ironisnya, kebakaran ini disebabkan seorang kakek yang merayakan kelahiran cucunya dengan menyulut lodong. Semacam petasan tradisional. Api dari lodong inilah yang menyambar bangunan dan menyebabkan kebakaran. Berita ini sampai dimuat di koran-koran di Hindia Belanda maupun di Belanda sana.
Setelah setidaknya 2x bencana kebakaran, pada tahun 1933 wabah pes kemudian melanda seluruh Jawa, menyebabkan tidak kurang dari 35 ribu orang meninggal dunia. Dalam rangka menyingkirkan wabah tersebut, pemerintah kolonial merubah arsitektur rumah menjadi setengah tembok. Banyak yang kemudian menyesalkan hal tersebut, seperti dapat dibaca di tulisan Aboebakar van Bintoro “Architectuur Oerang Soenda Sanggeusna Kataradjang koe Pest” (koran Sipatahoenan edisi 19 April 1934), dalam bahasa Sunda:
“Matak sedih katéndjona,.. Malah ngerik saenjana/…/ Noe tadina imahna maké kolong. Modél hateupna roepa-roepa! (Boéhna kaboedajaan A.v.B). Nja soeroep, nja sari katéndjona. Boh di toendjangeun pasir atawa dina lamping. Soeroep imah pagoenoengan Soenda! Njerep kana rasa kasoendaan. Da poegoeh diadegkeunana téh makë rasa kasoendaan, maké kaboedajaan Soenda!”. Sanggeus ayana woningverbetering, Aboebakar ngajén “Lemboer oerang Soenda tongroenggoenoek djiga pisan bedeng-bedeng kontrakan!” (Catatan: Woningverbetering = renovasi rumah)
Akankah arsitektur khas ini akan dapat kita saksikan kembali?
Mari ikuti terus cerita dan perjalanan mas Item serta para tim pendukung Conservation Run melalui IG @Conservation.Run

